May 13, 2012

EYD (Ejaan Yang Dipopulerkan)*

Entri kali ini, aku mau bahas hal sepele tapi masih menjadi perhatian banyak orang.

Beberapa teman luringku ternyata menjadi tukang intip atas blog ini. Mereka mengakui bahwa blogku ini sangat seksi sehingga dengan mengintipnya saja (tanpa meninggalkan komentar, tentu saja), mereka merasakan nikmatnya surga. Heuh, apakah yang sedang dibahas ini, malah ngalor-ngidul.

gadis pembawa permen

Setelah mengupas blogku dalam-dalam, mereka memberikan tanggapan saat aku bertemu dan melihat mereka tengah mengacak-acak laboratorium kimia analisis. Lumayan juga jumlah tanggapan yang kuperoleh, ternyata mereka sangat respek, terima kasih teman-temanku, huhu. Dari semua itu, berikut ini tanggapan yang perlu aku telaah.

Miss I and friends: Ensu, bahasa blog lu agak.. eh.. masih terlalu BAKU truz kata ganti orang pertamanya jangan "aku" dun, kayak gimanaaaaa gitu ( ̄. ̄)

Adapula tanggapan lain dari temanku, seorang mahasiswi fakultas ilmu budaya, kalau yang ini aku ajukan pertanyaan dulu.

Ensu: Freezy, kata anak kelas gue, blog gue kebakuan ya, padahal itu udah dilemesin loh. Truz apa ada masalah dengan menggunakan kata ganti "aku"?
Freezy: Ah, kebakuan apanya? Biasa aja tuh. Kata-kata yang digunakan standar sehari-hari. Kalau pakai "aku" juga gak ada masalah deh, tergantung selera aja.
Ensu: Ho, gitu ya, wah laen sih, lo kan orang bahasa (budaya juga belajar bahasa), baca entri gue sih enteng (ーー゛)
Freezy: Ohohohohoho biasa aja <(^▽^)
Ensu: (kayaknya salah tanya deh) ._.

Kembali pada judul entri, EYD. Kepanjangan EYD itu Ejaan Yang Disempurnakan... Semua orang juga tahu ya, tapi aku salah mengartikan kepanjangannya dengan Ejaan Yang Dibenarkan (;一_一) Aku suka dengan EYD sehingga saat menulis blog atau apapun itu, aku kadang ngecek ke KBBI. Rasanya kalau tidak menulis dengan baik, tidak puas walau salah eja sedikit saja, tapi kalau salah ketik sih bisa diabaikan, human error, hehe.
Contoh EYD (jadi inget soal UN):
  apotek, bukan apotik
  nasihat, bukan nasehat
  cabai, bukan cabe

EYD itu kan berkaitan dengan ejaan, alasanku menyukai EYD adalah memudahkan pembacaan dan pemahaman kalimat. Bila aku berkunjung ke suatu blog atau jurnal daring lainnya yang bukan blog mikro, mayoritas kontennya diketik dengan singkatan-singkatan kata yang tidak umum (bikin kata-kata sendiri) dan paling jelek, hasil salin tempel, langsung hilang mood menjelajahi tkp, Ctrl + w deh, padahal mungkin aja masih ada konten yang menarik di sana tapi ya apa daya, mood sudah hilang.
Contoh singkatan keren: mlgkh, apkh, sstu, ngbhs, amt, pmbt, azzlm, lklk
Contoh konten keren: pada hari yang sama terdampar di dua blog yang berbeda tapi memiliki konten/artikel yang persis sama tanpa menempelkan sumber.

Kepanjangan EYD di judul tuh hanya sebagai... Sesuatu... Perumpaan... Teori sendiri, makanya diberi tanda bintang, biar kalau ada yang lagi nyari kepanjangan EYD tidak menggunakan kepanjangan ini untuk mengerjakan soal dari bu guru bahasa Indonesia. Di saat EYD sebagai Ejaan Yang Disempurnakan sudah sempurna dan terkumpul dalam suatu kitab yang disebut KBBI, kapan EYD menjadi Ejaan Yang Dipopulerkan? Dipopulerkan, maksudnya populer penggunaannya secara umum, de facto aja. EYD kan tidak hanya dalam hal-hal yang formal, seperti diskusi atau seminar. EYD juga ada dalam hal-hal informal, seperti komik. Gak kebayang deh kalau dialog lokal atau terjemahannya berupa singkatan-singkatan kata, bakar saja.

Masalah kebakuan blog ini, aku masih tidak mengerti. Kenapa menulis blog menggunakan EYD disebut terlalu baku? Memangnya aku sedang menulis di blog mikro? Nyatanya, ini hanya masalah kebiasaan dan selera aja. Hmm.. Kalau bukan karena baku, mungkin maksudnya terlalu kaku? Kalau terlalu kaku sih... Bisa dimengerti. Maklumilah masih belajar. Formal segan, alay tak mau. Yang jelas, aku ingin membuat blog yang mudah dibaca dan dipahami tiap kalimatnya, ya, kekuatan EYD, jiwa dari bahasa Indonesia ヽ(´ー`)┌

2 comments:

  1. Nggak kaku kok? Aku malah lebih suka baca blog yang bahasanya baku tapi tetap bersahabat. Ini nggak kaku, karena yang kaku itu kalau udah masuk bahasa super formal dengan tipe penulisan yang bener2 formal abiss.. Penulisan2 di sini masih tergolong biasa kalau menurutku :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho, begitu.
      Waw, syukurlah kalau tata bahasaku gakk kaku
      (≧∇≦)/
      tp masih tergolong biasa y? Baiklah, memang hrz banyak latihan
      d(・。・ )

      Delete

Note: Only a member of this blog may post a comment.